Latest News

Senin, 04 Desember 2017

Papua: Mengenal Wamena

Hari itu 18 November 2017 dua wishlist tokopedia saya tercontreng, pertama bisa menginjakan kaki di bumi Papua dan kedua bisa mendatangi perkebunan kopi. Thanks buat Mas Rendy, Mas EKo, Key dan Bank Mandiri. 

Perjalanan ini akan menjadi perjalanan cukup panjang, karena kita mengunakan pesawat Garuda Indonesia yang langsung direct Jakarta – Jayapura. 5 jam nonstop, walau perjalan malam, berangkat dari Jakarta pukul 23.00 WIB dan akan sampai Jayapura pukul 06.00 WIT, saya sudah tahu pasti, saya tidak bakal bisa tidur karena terlalu semangat, dan benar saja, saya benar-benar melek semalaman. Oh ya saya ke Papua bersama rombongan Bank Mandiri, thanks to Pak Rohan, Bu Lala, Mba Syela dan Mas Rahmat yang super nice banget, membuat perjalanan kali ini, semakin menyenangkan. 


Call me lebay dah ah, tapi saat turun dari pesawat di Jayapura, ini menjadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan, akhirnya langkah kaki ini menginjak bumi Papua, seperti biasa pemandangan di bandara Sentani ini nampak luar biasa, deretan pesawat-pesawat Indonesia dengan background lengkukan indah pegunungan. 

Di Jayapura, rombongan kami disambut oleh pegawai Bank Mandiri cabang Jayapura, jadi rombongan bertambah besar dan makin rame, banyak canda dan tawa yang kami share bersama. Kami sempat mampir di kedai sederhana di Bandara, well tidak ada strubuk dan aneka macamnya, hanya secangkir kopi Wamena yang menemani saya menunggu sekitar sejam sebelum pesawat yang akan membawa saya ke Wamena terbang. 

Butuh sekitar 50 menit dengan mengunakan pesawat, untuk sampai ke Wamena dari Jayapura, kali ini kami mengunakan Wings Air, jenis pesawat berbaling-baling. Oh ya belum ada akses jalan antara Jayapura dan Wamena, jadi satu-satunya cara adalah dengan mengunakan pesawat. Dan pagi itu pesawat ke Wamena tidak terisi penuh, jadi saya bisa geser ke kursi kosong dan mendapatkan seat jendela. 50 menit perjalanan yang menyenangkan, karena view dibawah saya adalah hamparan keindahan bumi Papua. 

Pagi yang cerah di Wamena


Kalau di Raja Ampat terkenal akan lautnya, maka Wamena terkenal akan budaya dan penduduknya. Wamena adalah sebuah kota yang berada di Kabupaten Jayawijaya, provinsi Papua, Indonesia. Sekaligus merupakan Ibukota kabupaten Jayawijaya. Wamena berasal dari bahasa Dani  Wa dan Mena yang artinya Babi Jinak.

Berbeda dengan kota lain di Papua seperti Jayapura, Merauke, RajaAmpat, Wamena belum banyak tersentuk wisatawan, apalagi daerah pedalamannya, kota yang terletak di Lembah Baliem dan di aliri oleh sungai Baliem serta diapit pegunungan Jayawijaya ini memiliki udara yang super segar dan dingin, membuat orang Jakarta seperti saya mengigil kedinginan.  Bisa dibilang Wamena adalah Bandung berpuluh-puluh tahun lalu, dingin dan segar. 

Hotel di Wamena 

Jarak antara bandara ke hotel tidak terlalu jauh, saat saya bilang tidak terlalu jauh, itu benar-benar tidak jauh, jalan kaki juga bisa, naik kendaraan tidak sampai 5 menit. Cuz sampai deh. Tentu saja jangan membayangkan ada hotel sekelas Hilton disini.  Hotel Baliem Pilamo adalah hotel ‘terbaik’ yang bisa anda temui disini, ya paling tidak, pak Jokowi dan banyak Menteri kalau ke Wamena menginap disini. 


Bagi orang yang bisa tidur dimana saja, dan sering tidur di bandara, dalam bus atau kereta dan sering menginap di hostel saat traveling, saya tidak ada complain soal hotel ini, tapi ada satu hal yang lucu, adalah saya sibuk mencari remote AC karena kamar terlalu dingin, dan teryata hotel ini tidak ber AC, come on Dita, ini Wamena, bukan Jakarta yang kita tidak bisa hidup tanpa AC. Dan saat sorenya hujan turun di Wamena, AC alam ini semakin tidak bisa dikecilin.
Setelah bersih-bersih sebentar, kami makan siang di hotel, hidangan yang cukup lezat dengan aneka makanan yang sederhana, dan sepertinya orang di Wamena gak pakai micin dah ah. Setelah makan siang, saya ikut mendengarkan brief rekan-rekan Bank Mandiri. Seharusnya saya. 

Kota Wamena

Memang bukan seperti di Jakarta, kamu tidak akan menemukan kedai kopi overprice favortmu disini, atau café-café lucu dengan aneka dekorasinya. Tapi Wamena adalah sebuah kota, well kota kecil yang ada kehidupan, disana tersedia pasar, rumah sakit, bank cabang pembantu, bahkan angkot dan becak. Wamena hadir seperti kota kebanyakan, walau dengan sedikit sentuhan menakjupkan pegunungan Jayawijaya yang menjadi background seluruh kota. 

Makanan di Wamena

Bisa dibilang makanan disini quite expensive, bahkan dibandingkan dengan Jakarta sekalipun. Ingin tahu semahal apa? Bisa dilihat di gambar dibawah ini.
Ini saya makan dikedai sederhana didekat hotel, karena saya telat untuk sarapan. Soal rasa, well kita sedang tidak wisata kuliner kan yak. 


Oh ya bicara tentang makanan khas Wamena, well sekali lagi, karena ini bukan wisata kuliner, makan saya tidak terlalu mengexplore makanan di Wamena. Tapi kalau anda ke Wamena, ada salah satu resto, well saya kira satu-satunya di Wamena, kalau di Jakarta, seperti rumah makan sederhana di pinggir jalan. Resto ini menjual satu menu khas, namanya udang selingkuh. kenapa dinamakan udang selingkuh, bukan ini bukan jenis masakannya akan tetapi karena jenis udangnya, mereka menyebutnya udang selingkuh karena bentuk udangnya seperti selingkuhan udang dan kepiting, walau aslinya ini adalah udang air tawar yang memang banyak ditemui dikawasan papua.

Baca cerita lengkap Kopi Wamena Disini
Dan cerita lainnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Post