Latest News

Minggu, 04 Agustus 2019

Festival Literasi Sekolah Mengembangkan Kreativitas Anak Indonesia



Sudah tahu tentang Festival Literasi Sekolah (FLS)?

FLS 2019 ini merupakan kegiatan atau lomba untuk siswa maupun siswi SMA/MA se-Indonesia yang memiliki minat dan bakat untuk mengembangkan kemampuan dalam menulis cerpen, syair, komik dan meme melalui pembuatan karya. Dimana karyanya tersebut dibuat secara individual dengan mengatasnamakan SMA/MA tempat siswa tersebut sekolah. dengan adanya Festival Literasi Sekolah ini, akan melahirkan anak-anak bangsa yang kreatif dan berprestasi. Apalagi hadirnya FLS ini diarahkan sebagai salah satu proses pembentukan karakter. Bahkan dengan adanya FLS ini tidak hanya mengarahkan peserta didik untuk mahir dalam kesenian, tetapi juga dilatih untuk memiliki kepekaan afektif, estetis, guna memperkuat rasa percaya diri melalui kesenian sebagai media ekspresi. Mengingat media literasi ini merupakan wahana bagi anak-anak muda dalam mencurahkan intusu dan estetika, serta gagasan dan imajinasi estetis yang tetap menjunjung tinggi budi pekerti dan etika.


Contoh Kreativitas saat sekolah

Contoh Kisah adalah Annisa Rahmah, siswi kelas 12 jurusan MIPA SMAN 1 Banjar Baru, literasi adalah mengungkapkan ide.

“Literasi bagi saya seperti mengungkap ide dalam hal apa pun. Saya bukan tipe orang yang padai bicara di depan umum, saya lebih suka mengungkap ide tersebut lewat gambar,” ujar siswi kelahiran Birayang, 7 Februari 2002 ini di Padjadjaran Suite Resort & Convention Hotel, Bogor, Jawa Barat, Sabtu 27 Juli 2019.

Kegemaran Annisa pada komik bermula saat ia menonton kartun Dora The Explorer. “Waktu kecil saya suka sekali nonton kartun, khususnya Dora The Explorer. Di rumah, kertas HVS pasti ada karena mama guru. Kertas HVS itu saya habiskan untuk menggambar Dora, dan sampai sekarang saya masih suka nonton kartun,” cerita dara asal Provinsi Kalimantan Selatan ini.


Pada Festival Literasi Sekolah (FLS) III ini, Annisa mengikuti lomba cipta komik jenjang SMA. Ia memperoleh informasi jenis lomba ini dari kawannya. Mulanya ia ragu dapat lolos FLS III. Namun karena dorongan kawan-kawannya ia memberanikan diri mencoba dan berhasil lolos.

“Tema komik kan Indonesia romantis. Untuk ide komik kebetulan saya ada banyak, karena kebiasaan saya ketika mendapat suatu ide itu pasti saya catat. Jadi untuk ide saya tidak ada kesulitan,” katanya.

Meski demikian, Annisa mengaku kesulitan dari sisi teknis perlombaan. “Paling kesulitan ini kominknya digital, sedangkan saya biasanya menggambar secara manual di kertas. Jadi tantangannya di digitalnya, dan bikin pertama kali komik digital ya waktu seleksi, itu pun peralatannya saya pinjem sama temen saya,” tambahnya.


Bagi Annisa FLS III sangat menarik. “Acara ini keren banget, tapi banyak yang tidak tahu. Bahkan mama saya yang guru SD saja tidak tau mengenai FLS, padalah kan ada FLS SD. Karena itu perlu banyak promosi,” tegasnya.*

Lomba apa saja yang ada di FLS?

Ada beberapa bidang FLS yang bisa diikuti siswa maupun siswi SMA/MA se-Indonesia, yakni:
  • Cipta Cerpen. Cerpen adalah karya fiksi berjenis prosa, imajinasi, pengalaman hidup, biografi, catatan perjalanan dan masih banyak lagi sumber inspirasi pembuatan cerpen. Teknis menulis cerpen dapat bersifat bebas. Maksudnya adalah cerpen dapat berupa narasi, deskripsi, dialog termasuk menyisipkan puisi atau syair. Supaya tidak bosan, cerpen juga dapat ditulis dengan menggabungkan antara deskripsi, dialog dan narasi.
  • Cipta Syair + D. Syair adalah puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas 4 larik (baris) yang berakhir dengan bunyi (rima) yang sama atau imajinasi yang disusun menggunakan kata-kata indah dan dapat dipahami pembaca.
  • Cipta Komik + D. Komik merupakan media antara yang menghubungkan media buku dan media film. Karena itu, komik dapat dimasukkan ke dalam rumpun sequential art. Komik dapat memunculkan gambar-gambar yang terjuxtaposisi (berurutan), sehingga dapat membentuk satu narasi melalui susunan dari serangkaian panel. Cerita komik memiliki bermacam genre yang berasal dari imajinasi, fantasi, pengalaman hidup, biografi, catatan perjalanan, iptek dan masih banyak lagi.
  • Cipta Meme + D. Berasal dari kata "Mimeme" dari Yunani yang berarti replica atau tiruan. Secara harfiah menyampaikan pesan melalui gambar dan teks melalui cara/pendekatan yang satire/karikatural dan membuat jadi viral seperti virus/sebaran cepat melalui beragam medium.
FLS 2019 ini diselenggarakan pada tanggal 25 sampai dengan 29 Juli 2019, dan dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Republik Indonesia, yakni Muhadjir Effendy. Yang saat itu juga menuliskan pesan literasi Mendikbud untuk anak Indonesia "Gerakan literasi bukan sekedar grakan membaca. Tetapi membaca untuk memahami serta mengkritisi dan memberikan pendapat lain dari apa yang telah dibaca. Hadirnya FLS akan mampu mengembangkan kreativitas anak bangsa, dimana siswa siswi Sekolah Menengah Atas yang kreatif akan mampu melahirkan ide-ide cemerlang, mampu mencari solusi atas berbagai persoalan dan mampu mandiri. Pendidikan literasi, baik itu literasi visual, digital maupun non digital secara efektif berkontribusi memberikan dasar perkembangan multi kecerdasan yang terpadu dan harmonis dalam kepribadian para remaja. Dengan bekal keterampilan yang baik bisa diraih dengan pendidikan bermutu melalui aspek-aspek yang dapat meningkatkan sensitifitas, daya apresiasi, daya kreasi, serta daya ekspresi seni dan budaya.

Penutupan Festival Literasi Sekolah 2019



Sebagai penutup rangkaian acara Festival Literasi Sekolah 2019, 29 Juli 2019 lalu di panggung utama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, diadakan bedah buku “TOMO” buku yang akan dibedah ini menceritakan cara pengasuhan seorang anak berkebutuhan khusus bernama Tomo yang tumbuh di Jepang. Ibunya orang Indonesia sedangkan ayahnya orang Jepang.
Dalam buku Tomo, Sari menceritakan pengalamannya mengasuh Tomo dari kecil. Merawat anak autis seperti Tomo tidaklah mudah dan butuh treatment khusus. Bisa membuat Tomo duduk tenang seperti di panggung hari itu merupakan suatu prestasi. Tomo, kini berusia 20 tahun, dapat bekerja sama selama acara dengan duduk di kursi dan menjawab pertanyaan dengan baik. Tentunya pertanyaan hanya dalam bahasa Jepang karena Tomo tidak mengerti bahasa Indonesia. Dalam mengasuh anak autis, Sari harus mengatakan dengan jujur setiap berkomunikasi dengan Tomo. Itu karena si anak akan menganggap tiap perkataan memang benar adanya. Selain itu, proses belajarnya akan lebih mudah dipahami bila menunjukkan secara konkret. Mau mengenal apel ya dengan menunjukkan buah apel.

Autisme bukan menjadi penghalang. Sari Okano ingin anaknya tumbuh mandiri dan bermanfaat. Oleh karena itu, Sari mengajarkan Tomo agar dapat memahami mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya. Contohnya ketika Tomo marah, ia akan menjedotkan kepala dan merasa kesakitan. Setelah itu Tomo dekati ibunya. Saat seperti ini, Sari memberi tahu ke Tomo bahwa hal tersebut menyakiti diri sendiri dan tidak baik dilakukan. Jadi, Tomo belajar baik dan buruk lewat pengalaman nyata.
Anak autis merupakan anak spesial yang lahir di keluarga istimewa. Membaca sekilas buku Tomo dan mendengarkan pemaparan sang penulis membuat saya yakin anak autis dapat tumbuh bahagia dan berprestasi.
Kini pagelaran Festival Literasi Sekolah 2019 telah berakhir namun ilmu dan pengalaman yang didapatkan di sana semoga dapat mendorong kreativitas siswa-siswi Indonesia. Seperti pesan literasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy bahwa membaca untuk memahami serta mengkritisi dan memberikan pendapat dari apa yang telah dibaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Post