Latest News

Kamis, 31 Oktober 2019

Makanan aman dengan styrofoam



Guys, sadar gak sih kalau beberapa tahun terakhir ini isu lingkungan lagi gencar-gencarnya diberitakan, bahkan sudah banyak sekali komunitas pecinta lingkungan yang bermunculan untuk mengkampanyekan bumi bebas plastik, atau mengajak masyarakat Indonesia agar mengurangi pemakaian plastik.


Saya percaya semua orang punya porsi masing-masing dan semua orang ingin menjaga bumi kita, karena sampai sekarang hanya planet ini yang bisa kita tinggali. Kecuali ntar saya masuk surga, LOL. Tapi kita tidak bisa memaksakan orang untuk menjalankan hidup dengan standard para aktivis lingkungan. Mengenai kantong plastik belanja berbayar saya setuju, karena ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi pemakaian kantong plastik dan membiasakan masyarakat Indonesia untuk menggunakan kantong belanja ecobag , tapi faktanya manusia +62 masih belum terbiasa belanja bawa-bawa kantong sendiri. Belanja di bulk store saya juga suka sekali, less kantong plastik, tapi gaya hidup ini bukan untuk semua orang, karena biasanya belanja di bulk store di Indonesia harganya bisa lebih mahal.


Saya yakin semua orang sudah mulai melakukan berbagai cara untuk menjaga bumi kita ini, tapi mungkin dengan cara dan versinya masing-masing, karena ada beberapa faktor yang membuat orang tidak atau belum bisa membiasakan diet kantong plastik seperti yang dilakukan oleh para aktivis lingkungan, salah satunya karena minimnya pengetahuan. Contohnya saya sendiri, sebagai food blogger jujur saya masih merasa kurang terinformasi mengenai manajemen sampah, cara daur ulang dll.


Untungnya kemarin, 8 Oktober 2019, saya sempat hadir di acara How to Make Good Quality Take-Away Foods bersama Chef Lucky Andreono - juara Master Chef Indonesia session 1 yang dilaksanakan di Ocha & Bella Restaurant, Jakarta Pusat. Selain Chef, acara ini juga dihadiri oleh pembicara dari ITB, yaitu Dr. Akhmad Zainal Abidin, Msc, Ph.D, Scientist/ Researcher dari Labotarory Technology Polimer and Membrane Institut Teknologi Bandung.

Acara di mulai dengan demo masak oleh Chef Lucky, dan yang di demokan adalah menu favorit saya banget nih Tumis Udang Saus Telur Asin dan Tumis Ayam Cabe Garam, tidak hanya memasak, tetapi Chef Lucky juga memberikan tips hemat dalam memasak, seperti untuk Saus Telur Asin, kita bisa menggunakan putihnya sekaligus. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan pencerahan dari  Dr. Akhmad Zainal Abidin, Msc, Ph.D, Scientist/ Researcher dari Labotarory Technology Polimer and Membrane Institut Teknologi Bandung mengenai fakta-fakta pembungkus makanan Styrofoam. Ada dua isu yang menjadi perhatian saya saat talk show yaitu Apakah Styrofoam memicu kanker? Dan Apakah Styrofoam merusak lingkungan ? berikut penjelasan Prof. Zainal 

Apakah Styrofoam memicu kanker?

Berdasarkan penjelasan Prof. Zainal Styrofoam aman digunakan untuk kemasan makanan sehari-hari. Kemasan makanan ini terbuat dari Polistirena atau polimer Stirena yang terbuat dari minyak bumi.  Menurut Prof. Zainal, kandungan Stirena, memang memiliki zat karsinogenik yang dapat memicu pertumbuhan kanker saat berpindah pada makanan yang dikonsumsi tubuh. Akan tetapi, dia memastikan bahwa Styrofoam yang beredar di pasaran saat ini tidak menimbulkan kanker.
Prof. Zainal Styrofoam menjelaskan bahwa  nilai asupan zat stirena yang berpindah dari styrofoam ke tubuh adalah 0,46-12 miligram per orang per hari. Beliau juga membandingkan dengan kandungan Stirena yang juga terdapat dalam telur sebesar 10 mikrogram per kilogram, dan stroberi 274 mikrogram per kilogram.  "Artinya jauh lebih rendah dari batas aman yang ditetapkan. Dan stoberi saja lebih besar kandungan Stirenanya," 

Apakah Styrofoam merusak lingkungan 

Isu ini cukup membuat saya khawatir, karena saya sering membukus makanan menggunakan Styrofoam akan tetapi saya tidak ingin merusak lingkungan. Dan menurut Prof. Zainal   Styrofoam terlihat banyak karena bahannya yang bisa mengapung. "Padahal sampah-sampah lain banyak berada di bawah Styrofoam, cuma tidak terlihat. Sampah plastik yang paling sedikit,"  

Dalam penjelasannya Prof. Zainal mengatakan Styrofoam memang tak bisa terurai dengan alami. Namun, saat ini perkembangan zaman tidak lagi mengandalkan penguraian alami. "Waktu terdegradasinya butuh 1.000 tahun. Tapi sekarang bisa dalam hitungan detik dan menit dan tidak butuh ruang yang banyak karena teknologi sudah berkembang," 

Prof. Zainal memaparkan saat ini standar ramah lingkungan tidak lagi melihat bisa atau tidak terurai melainkan dengan bisa atau tidak didaur ulang. Masih menurut Prof Akhmad Zainal, sampah Styrofoam ini bisa didaur ulang menjadi kerajinan tangan, pigura, beton ringan untuk perumahan, hingga pembersih senyawa sulfur yang digunakan Pertamina.

Dari penjelasan diatas rasa was-was saya tentang Styrofoam hilang, saya bisa tetap memakai Styrofoam tanpa takut  dengan masalah lingkungan atau kesehatan, karena yang benar itu bukan menyalahkan tapi bagaimana mencari solusi.
Well keseruan acara tidak sampai disitu saja, karena setelah itu kita di ajak untuk praktek membuat sushi sendiri, saya seh aslinya udah sering (dulu) membuat sushi, tapi udah lama gak gulung sushi sendiri, jadi agak mayan kagok pas gulung.
Keseruan hari ini emang luar biasa deh, seneng rasanya bisa belajar banyak dan mendapat banyak informasi bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Post